Analisis SWOT
Suatu perencanaan yang baik harus mengandung asumsi perencanaan uraian tentang asumsi perencanaan. Asumsi perencanaan ini merupakan faktor penopang dan penghambat yang diperkirakan akan di hadapi apabila perencanaan tersebut dilaksanakan. UNSUR-UNSUR SWOT : Kekuatan (Strenght) Yaitu berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki organisasi yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar dalam memperlancar berbagai kegiatan dan mencapai tujuan organisasi. Kelemahan (Weaknesses) Yaitu berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki organisasi yang apabila berhasil diatasi akan berperan besar dalam memperlancar berbagai kegiatan dan mencapai tujuan organisasi Kesempatan/Peluang (Opportunity) Yaitu peluang yang bersifat positif yang dimiliki organisasi yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar dalam memperlancar berbagai kegiatan dan mencapai tujuan organisasi Hambatan (Threats) Yaitu kendala yang bersifat negatif yang dimiliki organisasi yang apabila berhasil diatasi akan berperan besar dalam memperlancar berbagai kegiatan dan mencapai tujuan organisasi Teknik Analisis SWOT dibedakan menjadi 3 tahap : Tahap 1: Analisis Kekuatan dan Kelemahan Organisasi Tahap 2: Analisis Kesempatan Organisasi Tahap 3: Analisis Hambatan Organisasi
Penyakit Paru Akibat Kerja
Penyakit paru akibat kerja adalah semua kelainan/penyakit paru yang disebabkan oleh pekerjaan dan atau lingkungan kerja. Penyakit paru dapat berupa peradangan, penimbunan debu, fibrosis, tumor, dan lain sebagainya. Saluran pernapasan merupakan salah satu bagian yang paling mudah terpapar oleh bahan-bahan yang merugikan yang terdapat di lingkungan. Bahan-bahan tersebut antara lain bermacam-macam yang menimbulkan pneumokoniosis, bahan-bahan organik seperti derivat ter, arang batu, halogen hidrokarbon, keton, serta bermacam-macam gas seperti asam sulfida dan karbon monoksida. Resiko saluran pernapasan semakin tinggi karena besarnya volume udara yang mudah terkontaminasi oleh aerosol, gas, dan uap di tempat kerja yang bergerak keluar masuk paru-paru. Di Indonesia, penyakit atau gangguan paru akibat kerja yang disebabkan oleh debu diperkirakan cukup banyak. Hasil pemeriksaan kapasitas paru yang dilakukan di Balai HIPERKES dan Keselamatan Kerja Sulawesi Selatan pada tahun 1999 terhadap 200 tenaga kerja di 8 perusahaan, diperoleh hasil sebesar 45% responden yang mengalami restrictive (penyempitan paru), 1% responden yang mengalami obstructive (penyumbatan paru-paru), dan 1% responden mengalami combination (gabungan antara restrictive dan obstructive). Penyakit paru kerja teryata merupakan penyebab utama ketidakmampuan atau kecacatan, kehilangan hari kerja, dan kematian pada para pekerja. Beberapa jenis penyakit paru akibat kerja telah dilaporkan di Indonesia, seperti silikosis dan bisinosis. Namun angka kejadiannya kini relatif masih rendah. Rendahnya angka ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain belum terlalu lamanya umur pabrik/daerah industri, adanya kebiasaan bertukar pekerjaan (turn over rate) yang tinggi, dan juga masih terbatasnya penelitian yang ada. Penilaian penyakit paru akibat kerja ini memerlukan kecermatan yang baik. Penelitiannya meliputi penggunaan kuesioner yang telah distandarisasi, pemeriksaan faal paru, pemeriksaan radiologis yang cermat, dan pemeriksaan fisik yang baik. Penelitian biasanya dilakukan dalam skala yang cukup besar dan menyangkut jumlah obyek penelitian yang besar, serta penggunaan teknologi untuk menghitung kadar polutan di udara. Untuk menentukan apakah penyakit paru yang terjadi berhubungan dengan pekerjaan, harus dilakukan anamnesis yang teliti meliputi riwayat pekerjaan, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Berbagai penyakit dapat timbul dalam lingkungan pekerjaan yang mengandung debu industri, terutama pada kadar yang cukup tinggi, antara lain pneumokoniosis, silikosis, asbestosis, hemosiderosis, bisinosis, bronkitis, asma kerja, kanker paru, an lain-lain. Penyakit paru kerja terbagi 3 bagian yaitu: Pembagian Penyakit Paru Kerja Berdasarkan Etiologinya: 1. Penyakit paru interstitial : asbestosis, pneumokoniosis batubara, silikosis, bcrylliosis dan pneumonitis hipersensitif 2. Edema paru : inhalasi asap gas toksik akut (NO2, khlorin) 3. Penyakit pleura : penebalan dan efusi yang berhubungan dengan asbes, mesotelioma 4. Bronkitis : debu tepung, debu berat (pekerja tambang batubara) 5. Asma : toluen diisosianat, garam platina, tepung fonnalin, debu kapas, western red cedar 6. Karsinoma bronkus : uranium, asbes, kromnikel, Idormetil eter 7. Penyakit infeksi anthrax (penyortir kayu, kulit impor) 8. Coccidioidomycosis (pekerja bangunan, arkeologis) 9. Penyakit mikobakteri (silikosis) 10. Psitakosis (pemilik toko binatang) 11. Echinococcus (pengembala biri-biri dan anjing) 12. Q fever (penyamak dan pemelihara biri-biri)
Penyakit Akibat Kerja
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: per.01/men/1981 Tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja, penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Elemen pokok penyakit akibat kerja: Diagnosis penyakit akibat kerja pada paru-paru/saluran pernapasan:
Indikator Penilaian Mutu Rumah Sakit
Rumah sakit sebagai salah satu subsistem pelayanan kesehatan memberikan 2 jenis pelayanan yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi. Pelayanan kesehatan di rumah sakit saat ini bersifat komprehensif dan holistik. Dalam hal rujukan, rumah sakit merupakan pusat rujukan baik yang bersifat rujukan kesehatan maupun rujukan medik.
A. JENIS RUMAH SAKIT
- Berdasarkan kepemilikan :
- Rumah Sakit Pemerintah : MILIK PUSAT, MILIK DAERAH
- Rumah sakit BUMN/ABRI
- Rumah sakit swasta
- Berdasarkan jenis pelayanan
- Rumah sakit umum
- Rumah sakit jiwa
- Rumah sakit khusus
- Berdasarkan klasifikasi RS :
- Rumah sakit Tipe A
- Rumah sakit Tipe B (pendidikan atau non pendidikan)
- Rumah sakit tipe C
- Rumah sakit Tipe D
B. REKAM MEDIK
- Data Medis
- Data Umum : Data pemakaian ambulan, pemesanan makanan, kepegawaian, keuangan dll.
C. INDIKATOR PENILAIAN MUTU :
- Aspek Struktur
Aspek struktur meliputi tenaga, sarana, dana dsb. Baik tidaknya struktur rumah sakit diukur dari tingkat kewajaran, kuantitas, biaya, mutu masing-masing komponen struktur
- Proses
Proses adalah semua kegiatan dokter dan tenaga profesi lainnya yang mengadakan interaksi secara profesional dengan pasiennya. diukur dengan tingkat kepatuhan tenaga profesi dengan standar of conduct
- Outcome
a. Yang mencakup aspek pelayanan medis :
o Angka infeksi nosokomial
o Angka kematian kasar (GDR)
o Kematian Pasca Bedah
o Kematian Ibu Melahirkan
o Kematian Bayi Baru Lahir
o Netto Death Rate (NDR)
o Post Operation Death Rate
o Post Operative Infection Rate
b. Indikator untuk mengukur tingkat efisiensi RS :
o Unit cost untuk rawat jalan
o Jumlah penderita yang mengalami decubitus
o BOR (Bed Occupacy Rate)
o BTO (Bed Turn Over)
o TOI (Turn Over Interval)
o ALOS (Average Length Of Stay)
