Penyakit Paru Akibat Kerja
Monday, May 23, 2011
Penyakit paru akibat kerja adalah semua kelainan/penyakit paru yang disebabkan oleh pekerjaan dan atau lingkungan kerja. Penyakit paru dapat berupa peradangan, penimbunan debu, fibrosis, tumor, dan lain sebagainya. Saluran pernapasan merupakan salah satu bagian yang paling mudah terpapar oleh bahan-bahan yang merugikan yang terdapat di lingkungan. Bahan-bahan tersebut antara lain bermacam-macam yang menimbulkan pneumokoniosis, bahan-bahan organik seperti derivat ter, arang batu, halogen hidrokarbon, keton, serta bermacam-macam gas seperti asam sulfida dan karbon monoksida. Resiko saluran pernapasan semakin tinggi karena besarnya volume udara yang mudah terkontaminasi oleh aerosol, gas, dan uap di tempat kerja yang bergerak keluar masuk paru-paru. Di Indonesia, penyakit atau gangguan paru akibat kerja yang disebabkan oleh debu diperkirakan cukup banyak. Hasil pemeriksaan kapasitas paru yang dilakukan di Balai HIPERKES dan Keselamatan Kerja Sulawesi Selatan pada tahun 1999 terhadap 200 tenaga kerja di 8 perusahaan, diperoleh hasil sebesar 45% responden yang mengalami restrictive (penyempitan paru), 1% responden yang mengalami obstructive (penyumbatan paru-paru), dan 1% responden mengalami combination (gabungan antara restrictive dan obstructive). Penyakit paru kerja teryata merupakan penyebab utama ketidakmampuan atau kecacatan, kehilangan hari kerja, dan kematian pada para pekerja. Beberapa jenis penyakit paru akibat kerja telah dilaporkan di Indonesia, seperti silikosis dan bisinosis. Namun angka kejadiannya kini relatif masih rendah. Rendahnya angka ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain belum terlalu lamanya umur pabrik/daerah industri, adanya kebiasaan bertukar pekerjaan (turn over rate) yang tinggi, dan juga masih terbatasnya penelitian yang ada. Penilaian penyakit paru akibat kerja ini memerlukan kecermatan yang baik. Penelitiannya meliputi penggunaan kuesioner yang telah distandarisasi, pemeriksaan faal paru, pemeriksaan radiologis yang cermat, dan pemeriksaan fisik yang baik. Penelitian biasanya dilakukan dalam skala yang cukup besar dan menyangkut jumlah obyek penelitian yang besar, serta penggunaan teknologi untuk menghitung kadar polutan di udara. Untuk menentukan apakah penyakit paru yang terjadi berhubungan dengan pekerjaan, harus dilakukan anamnesis yang teliti meliputi riwayat pekerjaan, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Berbagai penyakit dapat timbul dalam lingkungan pekerjaan yang mengandung debu industri, terutama pada kadar yang cukup tinggi, antara lain pneumokoniosis, silikosis, asbestosis, hemosiderosis, bisinosis, bronkitis, asma kerja, kanker paru, an lain-lain. Penyakit paru kerja terbagi 3 bagian yaitu: Pembagian Penyakit Paru Kerja Berdasarkan Etiologinya: 1. Penyakit paru interstitial : asbestosis, pneumokoniosis batubara, silikosis, bcrylliosis dan pneumonitis hipersensitif 2. Edema paru : inhalasi asap gas toksik akut (NO2, khlorin) 3. Penyakit pleura : penebalan dan efusi yang berhubungan dengan asbes, mesotelioma 4. Bronkitis : debu tepung, debu berat (pekerja tambang batubara) 5. Asma : toluen diisosianat, garam platina, tepung fonnalin, debu kapas, western red cedar 6. Karsinoma bronkus : uranium, asbes, kromnikel, Idormetil eter 7. Penyakit infeksi anthrax (penyortir kayu, kulit impor) 8. Coccidioidomycosis (pekerja bangunan, arkeologis) 9. Penyakit mikobakteri (silikosis) 10. Psitakosis (pemilik toko binatang) 11. Echinococcus (pengembala biri-biri dan anjing) 12. Q fever (penyamak dan pemelihara biri-biri)

0 comments:
Post a Comment